Kemendikbud Diminta Tak Lupakan Kontribusi NU dan Muhammadiyah Dalam Pendidikan

Kemendikbud Diminta Tak Lupakan Kontribusi NU dan Muhammadiyah Dalam Pendidikan - Anggota DPR RI Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid mengkritik Program Organisasi Penggerak (POP) 

Kemendikbud Diminta Tak Lupakan Kontribusi NU dan Muhammadiyah Dalam Pendidikan


Kemendikbud yang dinilai lemah dalam proses verifikasi dan validasi, sehingga mengakibatkan penolakan dari Muhammadiyah dan NU, yang merupakan organisasi massa terbesar di Indonesia yang berjasa dalam menggerakkan dan mengelola pendidikan di Indonesia.


Pria yang akrab disapa HNW ini meminta Kemendikbud mendengar masukan dari masyarakat, termasuk dari dua ormas besar Muhammadiyah dan NU, yang menyatakan bahwa program dengan total anggaran Rp 595 miliar tersebut seharusnya melibatkan lembaga yang kredibel dan telah terbukti berkontribusi dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

“Anggaran penggerak pendidikan ini jangan sampai jadi sekedar hibah untuk pihak swasta, yang belum jelas kontribusinya di bidang pendidikan. Pemerintah harusnya lebih hati-hati soal pemakaian APBN, ini era darurat Corona,” kata Hidayat dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (24/7).

Hidayat mengingatkan bahwa 30 hingga 40 persen pembiayaan negara di masa Pandemi ini berasal dari Utang, dikarenakan defisit yang semakin melebar hingga lebih dari Rp 1.000 triliun sesuai Perpres 72/2020.

“Diperlukan langkah penggunaan anggaran yang hati-hati, efisien, tepat guna dan pruden, terutama untuk program dengan anggaran yang melimpah,” kata Wakil Ketua MPR itu.

Baca Juga 

Menurutnya, anggaran untuk Organisasi Penggerak Pendidikan sebesar Rp 595 Mmiliar di Muhammadiyah adalah sangat besar, dibandingkan misalnya anggaran untuk Lembaga/ Ormas di Kementerian Agama yang hanya sekitar Rp 75 miliar.

Oleh karena itu, Politisi Fraksi PKS ini meminta Kemendikbud lebih peka dan hati-hati, apalagi ditemukan ada beberapa Lembaga yang berafiliasi dengan dana CSR Perusahaan, seperti Tanoto Foundation dan Sampoerna Foundation, tapi malah menerima 'hibah' kelas gajah dari program ini.

Mundurnya Muhammadiyah dan NU dari program tersebut, lanjut HNW harus menjadi evaluasi serius bahwa ada yang tidak beres dalam proses dan pengambilan keputusannya, apalagi kabarnya dalam proses verifikasi, tidak menggugurkan satu pun dari 183 lembaga calon penerima.

“Memang perlu pemerataan dan keadilan. Tetapi dalam konteks itu juga, mengabaikan peran Muhammadiyah, NU, dan beberapa ormas besar lain telah bergerak dan terbukti sukses di bidang Pendidikan sebelum Kemendikbud berdiri, adalah ketidakbijakan yang harusnya tidak terjadi,” tegas Wakil Ketua Majelis Syuro PKS ini.


HNW berpesan jangan sampai peran dan pendapat Muhammadiyah dan NU diabaikan, dengan track record yang mensejarah itu tidak dipentingkan, apalagi ini untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan guru, dengan menggunakan anggaran tinggi di masa pandemi.

“Justru melibatkan organisasi-organisasi besar yang telah terbukti jasa dan kinerjanya dalam menggerakkan dan memajukan Pendidikan seperti Muhammadiyah, NU dan lainnya, akan lebih membantu Kemendikbud untuk merealisasikan program-program pendidikan dan tenaga didik yang lebih baik dan lebih maju, sekalipun di era darurat kesehatan pandemi covid-19,” pungkas Anggota DPR Dapil DKI Jakarta II itu. Sumber: Merdeka.com

Belum ada Komentar untuk "Kemendikbud Diminta Tak Lupakan Kontribusi NU dan Muhammadiyah Dalam Pendidikan"

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Recent Posts Label

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel